Belajar, Merasakan Manis Bubuk Kopi

Posts tagged ‘syair rumi tentang cinta’

Kebenaran Dibalik Semua Hal

ketika Aku bermain dengan-Mu, cintaku.
Aku mengerti mengapa ada permainan seperti
warna pada awan, di atas air,
dan mengapa bunga yang berwarna tints.

ketika Aku bernyanyi untuk membuat Engkau menari
Aku tahu mengapa ada musik dalam daun,
dan mengapa gelombang mengirim paduan suara mereka
ke jantung pendengar bumi.

ketika Engkau berbisik hal-hal yang manis untuk ku,
Aku tahu mengapa ada madu di cangkir bunga,
dan mengapa buah secara diam-diam diisi
dengan jus manis.

ketika Aku mencium wajah-Mu untuk membuat Engkau tersenyum,
Aku mengerti apa kesenangan menerus dari langit
dalam cahaya pagi,
dan apa yang menyenangkan angin musim panas membawa ke tubuhku
dan Aku mencium untuk membuat Engkau tersenyum.

Rumi, oleh Deepak Chopra
dari A Gift of Love, Volume 2

Penyair mistik Sufi Jami bercerita tentang seorang pencari yang pergi untuk meminta nasihat bijak untuk panduan tentang cara Sufi. Sang Bijak menasihati, “jika Kau belum pernah dilalui jalan cinta, pergi dan jatuh cinta;. Kemudian kembali dan melihat kami” Sufi kuno tahu, kebenaran rahasia kuno bahwa ‘ciptaan terbuat dari Cinta‘.

Rahasia mengapa bunga berwarna tints, dan mengapa ada madu dalam secangkir bunga. Ppermainan mengagumkan warna di alam adalah hadiah lucu Kasih-Nya. Pemahaman Darwin dapat menawarkan kita pandangan yang berbeda dari realitas mengapa bunga berwarna tints, di mana kita diberitahu bahwa untuk menarik lebah dan serangga, membantunya dalam penyerbukan, untuk membantu evolusi. Nah, sufi tidak perlu membuktikan Darwin salah karena kebenaran itu beragam, para sufi tahu kebenaran penting di balik semua hal ‘kejelasan‘. Karena untuk menghubungkan segala sesuatu, Allah tanamkan kebutuhan dalam segala sesuatu yang diciptakan dan hubungan ini adalah hubungan cinta dan kebutuhan menembus simbiosis yang saling memupuk cinta.

Iklan

Bentuk Gajah | Syair Puisi Jalaluddin Rumi

Disebutnya nama Nabi Musa,
sudah menjadi sebuah rangkaian
yang membelenggu pemikiran para pembacaku,
mereka berfikir ini merupakan cerita-cerita yang terjadi dahulu kala.
Disebutkannya Nabi Musa hanya bertindak sebagai topeng,
tetapi cahaya Nabi Musa adalah persoalan terkini,
wahai sahabatku.

Nabi Musa dan Fir’aun itu di dalam dirimu:
engkau mesti mencari pihak-pihak yang bertentangan ini
di dalam dirimu-sendiri.

Penjanaan Nabi Musa akan terus berlaku
hingga Hari kiamat: Cahaya itu tidak berlainan,
walaupun pelitanya berlain-lainan.
Lampu tanah ini berlainan dengan sumbu itu,
tetapi cahaya mereka tidak berbeda:
ia dari Alam Sana.

Jika engkau terus melihat kaca lampu,
engkau akan dikelirukan,
karena dari kaca muncullah pelbagai keragaman.
Tapi jika pandanganmu kekal kepada Cahaya,
engkau akan dibebaskan dari keragaman
dan bermacam-macamnya bentuk yang terbatas.

Dari tempat yang menjadi objek pandangan,
wahai engkau yang adalah hakikat kehadiran,
dari sanalah bangkit perbedaan antara seorang yang
beriman sejati dengan seorang Zoroaster,
dan dengan seorang Yahudi.

Seekor gajah ditempatkan dalam sebuah bilik yang gelap:
beberapa orang Hindu membawanya untuk dipamerkan.

Banyak orang datang untuk melihat,
semua masuk ke dalam kegelapan.

Karena melihatnya dengan mata tidaklah mungkin,
semua orang merabanya, di pusat kegelapan,
dengan telapak tangan masing-masing.

Orang yang tangannya meraba belalainya berkata:
“Makhluk ini seperti sebuah saluran pipa air.”

Bagi orang yang tangannya menyentuh telinganya,
dia tampak seperti sebuah kipas.

Orang yang lain lagi, yang memegang kakinya,
berkata: “Menurutku bentuk gajah itu seperti sebuah Pilar.”

Yang lainnya, mengusap belakangnya, berkata:
“Sesungguhnya, gajah ini seperti sebuah singgahsana.”

Demikianlah, ketika seseorang mendengar (Gambaran
mengenai sang gajah), dia memahami (hanya) sesuai
dengan bagian yang disentuhnya saja.

Berdasarkan (beragamnya) objek pandangan,
berbeda-bedalah dakwaan mereka:
satu orang mengatakannya bengkok seperti “dal,”
yang lain berkata lurus seperti “alif.”

Sekiranya tangan masing-masing orang memegang lilin,
tiada perbedaan di dalam kata-kata mereka.

Pandangan persepsi-pancaindera itu hanyalah seperti
telapak tangan; tidaklah telapak tangan itu memiliki
kemahiran untuk mencapai keseluruhan gajah.

Mata bagi Lautan adalah suatu hal,
manakala buih itu suatu hal yang lain lagi:
tinggalkan buih dan lihatlah dengan mata bagi Lautan.

Siang-malam, tiada hentinya pergerakan
arus-buih dari Lautan: engkau memandang buih,
tetapi tidak Lautnya.
Kita bertumbukan satu sama lain,
seperti perahu: mata kita gelap,
sungguhpun kita terletak pada air yang jernih.

Wahai Rabb, engkau yang telah tertidur di dalam perahu ragamu,
engkau sudah melihat air,
tetapi lihatlah kepada Air dari air itu.

Air itu mempunyai Air yang menggerakannya:
jiwa itu mempunyai Ruh yang memanggilnya.

Dimanakah Nabi Musa dan Nabi Isa
ketika Sang Matahari memercikkan air
kepada ladang biji ciptaan?

Dimanakah Nabi Adam dan Hawa,
ketika Tuhan memasang tali kepada busur ini?
Lisan ini juga kelu;
lisan yang tidak kelu itu dari Sebelah Sana.

Jika Dia bercakap dari sumber itu,
kakimu akan menggeletar;
tapi jika dia tidak membincangkan itu,
sungguh malang nasibmu!

Dan jika Dia bercakap dengan memakai ibarat,
wahai anak-muda,
engkau akan terhijab oleh bentuk-bentuk itu.

Engkau terbenam ke bumi,
seperti rumput kau angguk-anggukkan kepala
mengikuti hembusan angin;
tanpa kepastian.

Tetapi engkau tidak mempunyai kaki
yang dapat membuatmu beranjak,
atau cobalah menarik kakimu
keluar dari lumpur itu.

Bagaimana mungkin engkau menarik kaki kamu?
Hidupmu itu dari lumpur tersebut:
luar-biasa beratnya untuk kehidupan seperti milikmu
untuk berjalan.

Tapi ketika engkau menerima kehidupan dari Tuhan,
wahai huruf-berirama,
engkau menjadi mandiri dari lumpur ini,
dan akan dibangkitkan.

Apabila bayi yang semula menyusui disapih dari jururawat,
dia menjadi pemakan serbuk dan beranjak darinya.

Seperti benih, engkau terikat kepada susu dari bumi:
Upayakanlah untuk menghentikan dirimu
dengan mencari makanan untuk qalb-mu.

Minumlah kata-kata Hikmah,
karena ia adalah cahaya yang terhijab,
wahai engkau,
yang tidak mampu menerima Cahaya tanpa hijab;

Hingga engkau menjadi mampu menerima Cahaya,
wahai jiwa;
sehingga engkau mampu menatap tanpa hijab
kepada sesuatu yang (kini) tersembunyi.

Dan jelajahilah langit seperti bintang;
atau bahkan berkelanalah tanpa-batas,
bebas dari langit mana pun.

Engkaulah yang datang menjadi dari ketiadaan.
Katakan, bagaimana caranya engkau menjadi?
Engkau tiba tanpa menyadarinya.

Bagaimanakah caranya engkau datang,
tidaklah engkau ingat,
tetapi akan kami lantunkan sebuah isyarat.

Bebaskanlah nalarmu, dan perhatikan!

Tutuplah telingamu, lalu dengarlah!

Tidak, takkan kuceritakan padamu,
karena engkau masih mentah:
engkau masih di musim semimu,
belum lagi engkau sampai ke bulan Tamuz.

Wahai makhluk mulia,
alam dunia ini seperti sebatang pohon,
kita seperti buah setengah-matang pada pohon itu.

Buah setengah-matang melekat erat ke dahan,
karena sepanjang mereka belum masak,
taklah mereka sesuai untuk istana.

Ketika mereka sudah masak dan menjadi manis,
sambil menggigit bibirnya,
mereka sekadar melekat saja ke dahan.

Apabila mulutnya sudah dibuat manis oleh kesentosaan,
kerajaan alam dunia ini menjadi tawar untuk sang Lelaki.

Memegang erat dan melekatnya jiwa
seseorang begitu kuatnya merupakan tanda ketidak-matangan:

di sepanjang engkau itu adalah embrio, pekerjaanmu adalah meminum-darah.

Banyak perkara yang lain lagi,
tetapi Ruh al-Quds akan memberitahu kisah itu,
tanpa aku.
Tidak, walaupun engkau
akan mengisahkannya ke telingamu sendiri,
tanpa aku, ataupun yang selain dari Aku,
wahai engkau yang seperti Aku.

Seperti ketika engkau tertidur,
engkau beranjak dari hadiratmu
kepada hadirat dirimu-sendiri:

Engkau mendengar dari dirimu-sendiri,
dan menganggap bahwa seseorang sudah menceritakan
kepadamu di dalam mimpi.

Wahai sahabat,
engkau bukan “engkau” yang tunggal;
tidak, engkau adalah lelangit dan lautan yang dalam.

“Engkau” -mu yang perkasa-sembilan-ratus kali lipat-
adalah lautan dan tempat tenggelamnya seratus “engkau.”

sebenarnya,
apakah yang dimaksud dengan istilah jaga dan tidur?

diamlah,
karena _ lah yang yang lebih tahu apa yang benar.

diamlah,
supaya engkau dapat mendengar Yang Bersabda,
apa-apa yang tidak akan terdapat
dalam kenyataan atau dalam penjelasan.

diamlah,
agar engkau dapat mendengar dari Matahari,
apa-apa yang tidak disenaraikan dalam buku
atau dalam pemberian.

diamlah,
supaya jiwa yang berbicara bagimu:
di dalam Bahtera Nuh tinggalkanlah berenang!

Rumi, Matsnavi III 1251 – 1307
Terjemahan ke Bahasa Inggeris oleh Nicholson.

Telah Dibuat Paham | Syair Puisi Jalaluddin Rumi

Terdapat seorang ibu, yang mengandung setiap tahun, tapi tidak ada anaknya yang hidup lebih lama dari enam bulan.

Ketika sampai tiga atau empat bulan, mereka meninggal dunia. Sehingga sang ibu menjerit, ” Rabb, Sembilan bulan lamanya, kutanggung berat kehamilan, tapi kemudian hanya tiga bulan lamanya hidupku gembira: kebahagiaanku lebih pendek dari terbentangnya pelangi.”

Wanita itu, karena kesedihan yang amat sangat, mengeluh nasib malangnya kepada para lelaki kepunyaan Tuhan.

Karena sudah dua puluh orang anaknya dikuburkan: seperti nyala cepatnya kemusnahan kehidupan mereka.

Hingga suatu malam ditunjukkan kepadanya sebuah taman yang tidak-terhingga, luas, hijau, indah, tanpa-cela sedikit pun.

Kusebut “Ganjaran Mutlak” sebuah taman, karena dia adalah sumber semua ganjaran dan gabungan semua taman;

Jika tidak begitu, sebenarnya tiada mata pernah melihat tempat yang disebut taman itu. Sungguh pun begitu istilah taman boleh dipakaikan untuknya: Tuhan pun telah menyebut Cahaya Kegaiban sebuah lampu.

Pasti saja ini tidaklah satu perbandingan yang ideal, hanya satu bandingan, agar mereka yang berasa heran dapat mencium suatu wewangian hakikat.

Demikianlah, sang ibu melihat ganjaran itu dan seketika lebur: pada singkapan itu, makhluk lemah itu hilang dalam fana ‘.

Dilihatnya namanya sendiri tertulis pada sebuah Kastil: seraya dia merasa yakin bahwa Kastil itu adalah milikNya.

Setelah itu, ada suara didengar olehnya, “Ganjaran ini adalah untuk lelaki yang tegak dengan istiqamah dan ikhlas dalam mengabdikan-diri.

Tentu diperlukan banyak sekali perkhidmatan kepada Tuhan supaya engkau boleh ambil bagian dalam perjamuan ini;

Karena engkau banyak hadir menyendiri-bersama-Tuhan, maka, sebagai ganti, Tuhan memberi bala-bencana itu. ”

“Rabb ,” wanita itu menjerit, “berikan kepadaku bala-bencana seperti itu seratus tahun lagi, bahkan yang lebih dari itu! Jika Engkau kehendaki, tumpahkanlah darahku! ”

Ketika dia masuk ke taman itu, didapatinya di situ semua anak-anaknya.

Wanita itu berkata, “Mereka hilang dari sisiku, tetapi tidak pernah mereka hilang dari sisiMu.”

Tanpa memiliki sepasang mata yang melihat kepada yang-Tak-nampak, tidak boleh seseorang menjadi Lelaki pemilik penglihatan.

Tidaklah darah keluar dari hidung, dan engkau alirkan darah yang kotor, melainkan agar dirimu terlepas dari demam.

Nicholson, Matsnavi of Rumi, III: 3399 – 3418

Lihatlahlah Jiwa Seperti Pancuran | Syair Puisi Jalaluddin Rumi

Setiap bentuk yang engkau ketahui,
mempunyai “mata-air-tetap” di alam tak-bertempat:
Tiada mengapa apabila bentuk musnah,
karena aslinya kekal.

Setiap wajah indah yang pernah kau ketahui,
semua Perkataan penuh-makna yang pernah kau dengar;
Janganlah bersedih apabila semua itu hilang;
karena ia sesungguhnya tidaklah begitu.

Apabila mata-air-sumber tak-berhenti,
cabangnya terus mengalirkan air.
Karena itu, apa yang engkau keluhkan?

Pandanglah jiwa seperti hulu,
dan semua ciptaan ini seperti sungai:
ketika hulu mengucur,
sungai mengalir dari situ.

Letakkan kesedihanmu
dan teruslah minum air-sungai ini;
jangan fikirkan kapan surutnya;
aliran ini tiada henti.

Dari semasa pertama engkau masuki alam wujud ini,
Dengan tangga ditaruh di hadapanmu,
supaya engkau dapat menapak naik.

Pertama engkau merupakan mineral,
dan engkau berubah menjadi tumbuhan,
kemudian engkau menjadi hewan:
Bagaimana hingga perkara ini
sempat menjadi rahasia bagimu?

Kemudiannya engkau menjadi insan,
dengan pengetahuan, ‘aql dan kepercayaan.

Pandanglah raga ini,
yang tersusun dari tanah-liat kering:
pandanglah bagaimana dia sudah berkembang
dengan sempurna.

Apabila engkau berjalan terus dari insan;
tiada keraguan lagi engkau akan menjadi malak.

Apabila engkau sudah meninggalkan bumi ini,
kedudukanmu di langit.

Lewatilah ke-malak-anmu:
masukilah samudera itu.

Supaya tetesanmu menjadi laut
yang tidak-terhingga luasnya.

Tinggalkanlah kata “putra,”
katakan “yang Maha Esa”
dengan seluruh jiwamu.

Tiada jadi soal jika raga menjadi tua,
lemah dan lusuh;
ketika jiwa senantiasa muda.

Rumi: Divan Syamsi Tabriz no 12,
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh
Nicholson.

Seorang Penyair Tua Terbangun | Syair Puisi Jalaluddin Rumi

Hati orang tua itu terbangun, tidak lagi cinta dengan treble maupun bass,
tanpa menangis atau tertawa.

Dalam kebingungan sejatinya-jiwa
ia pergi melampaui pencari manapun,
di luar kata-kata dan perkataan, tenggelam dalam keindahan,
tenggelam di luar pembebasan.

Gelombang menutupi orang tua itu.

Tidak ada lagi yang bisa dikatakan tentang dia.

Ia telah terguncang keluar dari jubahnya,
dan tidak ada lagi di dalamnya.

Ada pemburuan di mana elang menyelam ke hutan dan tidak datang kembali.

Setiap saat, sinar matahari benar-benar kosong dan benar-benar penuh.

Coleman Barks

Menangislah | Syair Puisi Jalaluddin Rumi

Menangislah dengan suara yang keras dan menangis adalah sumber kekuatan yang besar.

Seorang ibu, semua yang Ia lakukan adalah menunggu untuk mendengar anaknya menangis.

Hanya sedikit rengekan awal dan Ia ada di sana.

Menangislah,
jangan menjadi pendiam dan senyap
dengan rasa sakitmu.

Merataplah,
dan biarkan susu kasih sayang mengalir ke dalam dirimu.

Hujan deras dan angin,
cara awan mengurus kita.

Coleman Barks

Momen Paling Mengesankan | Syair Puisi Jalaluddin Rumi

image

www2.fiskars.com

Momen paling mengesankan dalam hidup datang
ketika orang-orang saling mencintai
bertemu mata masing-masing
dan di dalam apa yang mengalir di antara mereka kemudian.

Untuk melihat wajahmu dalam kerumunan orang lain, atau sendirian di jalan menakutkan, Aku menangis untuk itu.

Air mata kita menjernihkan bumi.
Saat Engkau memarahi, berucap terima kasih, dan tertawa kepadaku,
selalu kualitas-Mu menjernihkan jiwa.

Melihat-Mu seperti anggur
yang tak menyesatkan atau mati rasa.

Kita duduk di dalam bayangan pohon cypress
di mana keheranan dan pikiran yang jernih
membelitkan pertumbuhan   lambat mereka, ke kita.

Coleman Barks