Belajar, Merasakan Manis Bubuk Kopi

Archive for Februari, 2015

Guru Musik | Syair Musik Jalaluddin Rumi

Kau yang pecinta cinta,
ini adalah rumahmu.
Selamat Datang.

Di tengah membuat bentuk, cinta membuat bentuk yang melelehkan bentuk,
dengan cinta untuk pintunya dan jiwa untuk ruang depannya.

Perhatikan butir debu bergerak dalam cahaya dekat jendela.

Tarian mereka adalah tarian kami.

Kita jarang mendengar musik,
tapi kita semua tetap menari untuk itu,

diarahkan oleh orang yang mengajarkan kita,
sukacita murni matahari,

guru musik kami.

Coleman Barks

Iklan

Ketaatan Yang Sebenarnya | Syair Puisi Jalaluddin Rumi

Nabi Musa berlari selepas gembala.
Beliau mengikuti jejak bingung, di satu tempat yang bergerak lurus, terdapat seperti istana
di papan catur. Kemudian sisinya, seperti seorang Uskup.

Kini melonjak, pada puncaknya gelombang.
Sekarang tergelincir ke bawah seperti ikan, dengan sentiasa kakinya membuat jejak simbol dalam pasir,merekam negeri pengembaraan beliau.

Nabi Musa akhirnya terperangkap dengan dia. Aku telah salah. Rabb telah menyatakan kepadaku bahwa tidak ada peraturan untuk ibadah.

Katakan apa dan bagaimana cintamu bercerita.
Hujatan manismu adalah ketaatan yang sebenarnya.

Melalui kau dunia dan keseluruhannya dibebaskan.

Longgarkan bagian lidahmu dan jangan bimbang apa yang keluar.
Ia adalah cahaya Jiwa.

Coleman Barks

Yang Tahu Memberitahu Yang Tidak Tahu | Humor Nasruddin

Suatu hari di mimbar; di depan massa, nasruddin berdiri untuk memberikan nasihat.
Dia berkata, “Tahukah kalian, apa yang akan saya katakan kepada
kalian?” Orang-orang itu menjawab, “Tidak!
Kami tidak tahu.
“Kemudian Nashruddin berkata
kepada mereka, “Baiklah, kalau kalian tidak
tahu… Tidak ada gunanya berbicara dengan
orang-orang yang tidak tahu.” Dia pun turun dan
meninggalkan mereka.

Beberapa hari kemudian, dia kembali dan
berbicara pada mereka dengan pertanyaan sama, 
yang pernah dilontarkannya.
Dia berkata,
“Tahukah kalian, apa yang akan saya katakan
kepada kalian?” Mereka menjawab, “Ya, kami
tahu.” Dia kemudian berkata, “Jika kalian sudah
tahu apa yang akan saya sampaikan, saya tidak
perlu lagi mengatakannya.” Lalu, dia pun pergi
meninggalkan mereka.

Orang-orang itu pun kebingungan; apa yang
seharusnya mereka katakan untuk menjawab
pertanyaan Nashruddin itu. Namun, mereka
sepakat untuk pada kesempatan mendatang, jika
Nashruddin melontarkan pertanyaaan serupa,
sebagian di antara mereka akan menjawab ya dan
sebagian lain akan menjawab tidak.

Beberapa hari kemudian, Nashruddin
kembali ke tempat itu dan berkata, “Tahukah
kalian, apa yang akan saya katakan pada kalian?”
Jawaban mereka pun beragam; sebagian berkata,
“Ya, kami tahu,” dan sebagian lagi mengatakan,
“Tidak, kami tidak tahu.”

Nashruddin berkata
kepada mereka, “Baik, sebagian di antara kalian
sudah mengetahuinya dan sebagian lain tidak.
Karena itu, saya berharap, yang tahu memberitahu yang tidak tahu.” Lalu dia pun pergi meninggalkan mereka.